Legenda Perahu Terbalik

Gunung Tangkuban Perahu sudah tak asing lagi bagi masarakat Jawa Barat khususnya. Gunung yang berada di kawasan Bandung Utara tepatnya di daerah Cikole, Lembang. Gunung ini masih termasuk gunung yang aktif, terakhir kali meletus pada tahun 2013. Tapi gunung relatif aman untuk dikujungi wisatawan. Tanda gunung ini masih aktif adalah bau belerang yang menyengat di sana di kawah –kawah yang ada di gunung Tangkuban Perahu. Begitu juga terdapatnya aliran air panas yang bersumber dari gunung . Gunung Tangkuban Perahu ini punya ketinggian setinggi 2084 di atas permukaan laut atau 6873 kaki. Suhu di sana berkisar 17 derajat Celcius di siang hari dan malam hari bisa mencapai 2 derajat celcius. Kalau kita lihat dari jauh, maka akan kita melihat bentuk gunung Tangkuban Perahu ini seperti perahu yang terbalik. Dan itu ada ceritanya juga. Di sisi lain lereng gunung ini ditanami dengan kebun teh yang hijau.

Nah, bentuk gunung ini seperti perahu terbalik ini ada ceritanya. Dikenal dengan legenda Sangkuriang. Dulu ada wanita cantik bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi hidup dengan anaknya Sangkuriang yang sangat dia sayangi. Mereka juga punya anjing yang setia bernama si Tumang yang sebenarnya adalah ayah dari Sangkuriang sendiri, tapi Sangkuriang tak mengetahuinya. Suatu waktu Sangkuriang berburu bersama dengan Tumang. Tapi karena sampai sore dia tak mendapatkan satupun hewan, makanya Sangkuriang memutuskan untuk membunuh Tumang anjing kesayangan ibunya. Saat pulang daging Tumang dimasak oleh ibunya. Tak lama kemudian Dayang Sumbi merasa kehilangan Tumang. Dia menanyakan keberadaan Tumang pada Sangkuriang. Saat tahu kalau yang dia masak adalah daging Tumang, Dayang Sumbi marah besar dan mengusir Sangkuriang pergi jauh. Dayang Sumbi menyesal telah mengusir anaknya dan dia mohon diberi umur panjang dan wajah yang muda terus.

Suatu saat Sangkuriang yang sudah menginjak dewasa bertemu dengan Dayang Sumbi. Akhrinya mereka jatuh cinta. Tapi di saat yang sama Dayang Sumbi melihat ada bekas luka di kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi terkejut kalau dia jatuh cinta dengan anaknya sendiri. Agar pernikahan tak terjadi Dayang Sumbi memberikan syarat pada Sangkuriang agar membuat danau dan perahu dalam satu malam. Sangkuriang tenyata sangat sakti, Dayang Sumbi begitu takut kalau Sangkuriang bisa menyelesaikannya. Oleh sebab itu Dayang Sumbi berusaha kuat agar Sangkuriang tak bisa menyelesaikannya. Dayang Sumbi berdoa agar matahari cepat terbit. Doanya terkabul. Sangkuriang sangat marah dan menendang perahunya sampai terbalik. Dan perahu yang terbalik itu menjelma jadi gunung yang disebut dengan gunung Tangkuban Perahu atau perahu terbalik.

Di gunung ini terdapat tiga kawah utama yang terbentang luas yang sudah berumur puluhan ribu tahun. Aku kembali ke Tangkuban Perahu bersama ibu-ibu Darma Wanita dan aku banyak melihat perubahan di wisata ini.Saat ini areal Tangkuban Perahu sudah tertata rapi dibanding saat dulu. Pedagang-pedagang dengan kios-kiosnya juga ditata rapi sehingga sangat memudahkan wisatawan untuk membeli. Agak bawah dari areal kawah terdapat terminal dimana wisatawan berhenti di sana dan diantar mobil menuju ke atas. Dan yang aku suka di kios-kios di sana banyak dijual kerajinan rajutan buatan penduduk setempat. Banyak perempuan yang menjaga kios sambil merajut. Dan aku menemukan mantel rajut yang aku inginkan tapi belum aku temukan di Cirebon. Untung aku menemukan di sini. Dan banyak kuliner yang menghangatkan tubuh seperti bandrek. Minum bandrek ditemani dengan ketan bakar itu terasa nikmat sekali.. Dalam udara dingin yang menusuk tulang dan kabut yang tebal membuat bandrek dan teh rasa bunga melati ini terasa menghangatkan tubuh. Perjalanan ke Tangkuban Perahu yang sudah lama aku tak berkunjung ke sini membuat aku banyak teringat kenangan saat kecil berkunjung ke sana bersama keluargaku. Ah, masa dulu yang menjadi kenangan indah. Dan perjalanan kali ini ada untungnya juga aku bisa mengingat kembali kenangan masa kecil dulu, walau sekarang sarana dan prasarananya sudah cukup bagus dan tertata rapi dibandingkan dulu.