Categories
Artikel

Kisah Mawar Hutan

Terdapat sebuah pasar mawar di Magelang, di sana hanya ada transaksi bunga mawar. Seorang pembeli mawar disebut sebagai penjual atau pedagang, sedangkan yang menjual mawar disebut sebagai petani bunga mawar. Setiap pagi, setiap orang yang di Desa lereng Gunung Merbabu mengabdikan dirinya sebagai pemburu mawar. Sekitar 800 100 M di atas permukaan laut adalah tempat yang sangat cocok untuk tanaman mawar. Di sana terdapat mawar merah, mawar putih dan mawar kuning. Ada juga petani mawar yang berburu mawar pada malam hari yang biasa disebut sebagai pemburu mawar liar. Dengan penuh perjuangan, pemburu liar tersebut sampai di atas 1200 M ketinggian permukaan laut pada pagi hari.

Mawar hutan tidak sebagus dengan mawar yang lainnya, dengan tangkai yang lebih kecil serta bentuk yang sedikit berbeda. Namun, itu adalah harta yang berharga bagi masyarakat di sekitar lereng Gunung Merbabu.

Masih di wilayah lereng Gunung Merbabu yaitu di daerah Pakis, semua perempuan lanjut usia harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan bunga mawar dan mereka harus berjalan cepat supaya mereka tidak terlambat ke pasar. Kalau mereka telat, maka usaha mereka sia-sia.

Ada seorang nenek-nenek bernama Mbah Muji, dia berumur 80 tahun. Dia masih bersemangat untuk mencari mawar, dengan tangan yang sudah sangat keriput serta mata yang sudah tidak melihat dengan sempurna. Dia harus berjuang untuk menjual bunga mawar, dia tidak tahu menahu tentang menurunnya harga mawar. Mbah Muji hanya mendapatkan uang seribu 2 lembar saja, padahal dia sudah bersusah payah mengambil mawar di hutan. Setiap keranjang mawar dihargai sebesar Rp 2.000. Selain itu, dia harus mengeluarkan uang Rp. 500 untuk membeli sayur untuk dia makan.

Semua orang di sana menggantungkan hidupnya pada bunga mawar. Mawar adalah sumber kehidupan bagi mereka. Mawar telah membuat kisah yang berbeda-beda.

Ada seseorang yang bernama Pak Munsun yang sudah hampir berusia 60 tahun di daerah Grogol yaitu masih di sekitar lereng Gunung Merbabu. Pada malam hari yaitu sekitar jam 8 malam, dia harus mencari mawar di tengah gelapnya malam di gunung Merbabu, dibantu dengan anaknya yaitu Bara yang berusia 14 tahun. Malam semakin larut, mereka harus membuat tenda untuk berteduh yang terbuat dari daun dan batang kelapa serta mereka juga membuat api unggun dan membuat ubi bakar untuk dimakan. Adzan subuh telah membangunkan mereka dari lelapnya tidur. SubhanAllah, tertanam keimanan yang sangat mulia, mereka masih bisa mengerjakan ibadah shalat di tengah hutan. Perjalananpun di mulai kembali, mereka berhasil menemukan mutiara-mutiara hutan ini. Walaupun hujan, mereka tetap berburu mawar. Bagi mereka, mereka tidak perlu berdoa tetapi mereka harus berusaha.

Apa pernah terlintas di pikiran para pemimpin-pemimpin tinggi Indonesia, apa, bagaimana dan dari mana mawar di dapat? Apakah mereka memikirkan bagaimana kehidupan orang-orang yang mencari mawar?

Mawar bukanlah alat untuk menghasilkan uang. Tetapi mawar bisa menjadi sebuah perjuangan, cinta dan kasih sayang.